Sepohon Kayu
Home    Info
About: Membagikan apa yang aku baca. Menuliskan apa yang aku bagi.
Merekam apa yang aku lihat.
Thought via Path

MANUSIA MENJELANG TIDUR

Banyak macamnya.

Ada yang teriak-joget di bilik karaoke, ada yang tersedu-sedu menangis syahdu (ditinggal kekasihnya mungkin), ada yang melihat yang tak sepantasnya dilihat, ada yang posting-posting (seperti saya), ada yang mengecup kening anaknya yang lucu, ada yang bercengkrama dengan isteri atau suami tentang kisah hari ini (dan masa depan mungkin), ada yang membaca buku, ada yang menghampar sajadah, ada yang menekuk jari jemari berdzikir, ada yang sedang membaca al-quran (al-kaafiruun mungkin), ada yang baru wudhu.

Eh kok wudhu?

Ya mungkin saja.

Pada saat tidur, ia ingin Allah pegang jiwanya dalam keadaan suci. (qs. 39:42)

~

22 Agustus 2014 | 22:22 – Read on Path.

NASIHAT MENJELANG TIDUR: ALLAH BERSAMAKU, ALLAH MELIHATKU, ALLAH MENYAKSIKANKU.

Namanya Sahl bin ‘Abdullah rahimahullah. Nantinya kita akan mendapatinya sebagai seorang tokoh yang terkenal dengan kebijakan dan ia termasuk orang yang shalih.

Ketika itu umurnya masih tiga tahun. Ia terbangun, saat malam telah merangkak naik. Dan ia melihat pamannya (Muhammad bin Siwar rahimahullah) sedang melaksanakan shalat.

Pada suatu hari, Muhammad bin Siwar bertanya kepada keponakannya…

View On WordPress

BERKAH; SYUKUR; RIZQI; UMUR

IMG_0358.JPG

Teruntuk kakanda terkasih, pada telinga yang peka ini mendengar bahwa tiap-tiap insan yang tertitipkan (baik istri maupun putera-puteri) ada hak bagi mereka untuk mengutarakan wasiat yang amat berat: “Bawalah kami ke surga bersamamu.” (Qs. 66: 6)

Maka pantaslah sudah, bahwa pernikahan itu merupakan mitsaqan ghaliza.

Meski berat, saya yakin, kakanda telah banyak belajar dari bapak. Dan ini…

View On WordPress

.
Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani di Al-Mu’jamul Kabir (20/374, no. 648) dari hadits Al-Miqdam bin Ma’di Karb.

Sebuah nasihat dari Rasulullah ﷺ kepada kita.

#NasihatMenujuPernikahan
#EnsiklopedisHadits – View on Path.

.
Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani di Al-Mu’jamul Kabir (20/374, no. 648) dari hadits Al-Miqdam bin Ma’di Karb.

Sebuah nasihat dari Rasulullah ﷺ kepada kita.

#NasihatMenujuPernikahan
#EnsiklopedisHadits – View on Path.

.
Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluq yang paling banyak membantah. (QS. 18:54)

~

Telah rinci penjelasan di dalam Al-Qur’an mengenai kehidupan dunia maupun setelahnya.

Dengan amat sabar Allah menerangkan satu-satu syariat, perintah, larangan kepada manusia agar manusia mencahayai kehidupannya.

Namun, manusia seringkali hanya menjadikan petunjuk tersebut sebagai bahan perdebatan, perselisihan, pembantahan, pembangkangan, dan akhirnya mengapology semua hal yang sebenarnya tidak manusia inginkan terhadap apa yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim dalam kitabnya ash-Shahihain, dari Imam Ahmad, bahwa ketika itu pada malam hari Rasulullah ﷺ mengetuk pintu rumah menantunya; ‘Ali bin Abi Thalib. Rasulullah ﷺ mendapati ‘Ali bin Abi Thalib bersama Fatimah binti Rasulullah ﷺ sedang beristirahat tidur.

Rasulullah ﷺ berkata kepada mereka, “Tidakkah kalian berdua mengerjakan shalat?”

Sang menantu, ‘Ali bin Abi Thalib menjawab: “Ya Rasulullah, sesungguhnya jiwa kami berada di tangan Allah, jika Dia berkehendak untuk membangunkan kami, maka kami bangun.”

Sekonyong-konyong Rasulullah ﷺ pulang saat ‘Ali bin Abi Thalib berkata seperti itu. Rasulullh ﷺ tidak melontarkan sepatah kata pun kepada ‘Ali bin Abi Thalib.

Kemudian setelah bergerak beberapa jarak, Rasulullah ﷺ akhirnya membalikkan punggung, menepuk paha, dan berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib:

وكان الإنسن اكثر شيء جدلا

"Dan manusia adalah makhluq yang paling banyak membantah."

~

Sungguh tidak ada yang salah dengan kalimat yang dikatakan oleh ‘Ali bin Abi Thalib, bahwa jiwa kita berada di tangan Allah, dan hanya Allah lah yang berkehendak apa saja kepada kita. Namun yang menyalahi adalah ketika kita memaknai ini sebagai bentuk kemalasan diri.

Hidayah sungguh Allah telah sediakan.

Bagi yang datang sejengkal kepada-Nya; Allah gerakkan untuk mendekatinya sehasta, bagi yang datang sehasta; Allah bergerak mendekatinya sedepa, bagi yang datang berjalan; Allah akan lari menuju hamba-Nya.

Sungguh, Allah berkesuaian dengan prasangka hamba-Nya.


20 Agustus 2014

*mengilmui seayat dengan bantuan Tafsir Ibnu Katsir. Semoga membuncah semangat yang kiat kusut. – View on Path.

.
Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluq yang paling banyak membantah. (QS. 18:54)

~

Telah rinci penjelasan di dalam Al-Qur’an mengenai kehidupan dunia maupun setelahnya.

Dengan amat sabar Allah menerangkan satu-satu syariat, perintah, larangan kepada manusia agar manusia mencahayai kehidupannya.

Namun, manusia seringkali hanya menjadikan petunjuk tersebut sebagai bahan perdebatan, perselisihan, pembantahan, pembangkangan, dan akhirnya mengapology semua hal yang sebenarnya tidak manusia inginkan terhadap apa yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim dalam kitabnya ash-Shahihain, dari Imam Ahmad, bahwa ketika itu pada malam hari Rasulullah ﷺ mengetuk pintu rumah menantunya; ‘Ali bin Abi Thalib. Rasulullah ﷺ mendapati ‘Ali bin Abi Thalib bersama Fatimah binti Rasulullah ﷺ sedang beristirahat tidur.

Rasulullah ﷺ berkata kepada mereka, “Tidakkah kalian berdua mengerjakan shalat?”

Sang menantu, ‘Ali bin Abi Thalib menjawab: “Ya Rasulullah, sesungguhnya jiwa kami berada di tangan Allah, jika Dia berkehendak untuk membangunkan kami, maka kami bangun.”

Sekonyong-konyong Rasulullah ﷺ pulang saat ‘Ali bin Abi Thalib berkata seperti itu. Rasulullh ﷺ tidak melontarkan sepatah kata pun kepada ‘Ali bin Abi Thalib.

Kemudian setelah bergerak beberapa jarak, Rasulullah ﷺ akhirnya membalikkan punggung, menepuk paha, dan berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib:

وكان الإنسن اكثر شيء جدلا

"Dan manusia adalah makhluq yang paling banyak membantah."

~

Sungguh tidak ada yang salah dengan kalimat yang dikatakan oleh ‘Ali bin Abi Thalib, bahwa jiwa kita berada di tangan Allah, dan hanya Allah lah yang berkehendak apa saja kepada kita. Namun yang menyalahi adalah ketika kita memaknai ini sebagai bentuk kemalasan diri.

Hidayah sungguh Allah telah sediakan.

Bagi yang datang sejengkal kepada-Nya; Allah gerakkan untuk mendekatinya sehasta, bagi yang datang sehasta; Allah bergerak mendekatinya sedepa, bagi yang datang berjalan; Allah akan lari menuju hamba-Nya.

Sungguh, Allah berkesuaian dengan prasangka hamba-Nya.


20 Agustus 2014

*mengilmui seayat dengan bantuan Tafsir Ibnu Katsir. Semoga membuncah semangat yang kiat kusut. – View on Path.

Thought via Path

.
AN INVISIBLE BEAUTY

Ada seorang bapak yang berbelanja di mall. Di deretan perkakas alat masak, bapak tersebut bersama keluarganya (termasuk saya yang ngepoin mereka) hilir mudik di depan dan samping saya.

Saya yang waktu itu ingin membeli wajan, hanya berdiam diri saja sambil merperhatikan tingkah mereka.

Kenapa saya perhatikan?

Karena bapak tersebut bersama dua puterinya dan satu istrinya. Ini hasil dari tebak-tebak saya saja. Karena dua puteri dan ibunya berniqab semua. Mungkin puterinya seumuran atau lebih muda daripada saya.

Pada saat itu, saya yang mematung tak kunjung memilih perkakas, ingin menyapa bapak tersebut.

Ini adalah bagian dari daftar rahasia kehidupan saya (tapi sekarang sudah tidak rahasia. Hhe). Yaitu ingin tahu, kenapa mereka memutuskan untuk begitu, maksud saya berniqab. Apa yang ingin diperjuangkan oleh mereka?

Tapi karena pada saat itu saya tidak berakting selayaknya anak keren dan lulusan pesantren ( saya pada waktu itu sedang berakting memakai jaket dan bercelana isbal, sementara bapak tersebut celananya tidak isbal) saya urungkan diri. Padahal mereka serumpun dengan saya, jawa. Di tanah urang ini, kentara sekali siapa jawa siapa sunda, meski mereka berniqab semua kalau saat berbicara pakai bahasa jawa berarti mereka jawa. Ini hepotesa cupu.

~

Dan tidak hanya pada saat itu saja, sedang berwisata di Ragunan pun tak jarang saya melihat wanita berniqab. Tapi karena dari mereka tidak ada yang laki-laki, maksud saya tidak seperti bapak di mall tadi yang menemani keluarganya, saya urungkan niat untuk menelisik mereka.

Dengan berat hati, saya putuskan ‘an invisible beauty’ ini kembali menjadi daftar rahasia yang tidak rahasia lagi bagi saya.


18 Agustus 2014

~
*tulisan ini dibuat agar bisa tertidur zZ..zZ (22:29) – Read on Path.

Thought via Path

.
HIJAB DALAM BUNGKUS KAPITALISME RELIGIUS

Hijab memang berniat menutupi tubuh dan representasi menjalankan perintah agama, tetapi gerakan hijab saat ini malah tidak ada urusan dengan peningkatan religiusitas, kesadaran beragama, atau keberimanan.

Manifestasi keilahian tertutupi mode. Hal terpenting adalah apa yang dipakai tidak harus mewakili apa yang ada di dalam batin. Di buku Jilbab Menurut Al-Quran dan As-Sunnah (1993), Husein Shahab menyatakan bahwa pakaian islami menjadikan perempuan itu terjaga dan terhormat. Mereka akan terhindar dari gangguan, keusilan, dan fitnah.

Pakaian islami bisa menjadi jalan berelasi dengan Tuhan lewat cara paling bersahaja. Jaminan ini tentu saja tidak sekadar urusan fisik atau terlebih diukur lewat kemodisan dan kemewahan. Berjilbab seharusnya menjadi jalan terhindar dari godaan duniawi, belanja berlebih, pamer aksesori, atau kosmetik mencolok.

Jilbab menjadi perlindungan tubuh, hati, dan pikiran. Menjadi miris, ketika hijab beralih menuju adegan di panggung, memakai busana rancangan desainer terkenal, dipakaikan aksesori, menaikkan penjualan, dan dipublikasikan ke seluruh pelosok negeri.

Gerakan berhijab mengepung orang-orang dari luar dan menggoda untuk turut berhijab meski sekadar ikut-ikutan gaya hidup.

Akhirnya, menjadi lazim ketika mendapati orang-orang begitu cepat berhijab sebagai pengaruh dari pergaulan. Meski telah berhijab, pemakai masih gamang apakah ini adalah manifestasi ke-sadaran beragama atau sekadar tuntutan sosial agar tidak malu bersosialisasi.

18 Agustus 2014

~

Renungan hebat untuk saudari-saudariku yang berjilbab.

*ilmu dikutip dari http://m.bisnis.com/bisnis-indonesia/read/20140720/251/244622/hijab-dalam-bungkus-kapitalisme-religius – Read on Path.

.
URIP MUNG SAKDERMO MAMPIR NGOMBE

Apa pentingnya dunia sehingga orang-orang bertengkar, mencuri, menipu, berbohong, menjilat, menghasut, sampai ada yang bunuh diri? Karena bagi mereka, dunia adalah tujuannya.

Sementara bagi orang Jawa, ‘neng ndunyo piro suwene, njur bali nang panggonane.’

Di dunia itu hanya sekedar mampir minum. Dunia itu penting. Namun tetap, dunia adalah satu interval antara stasiun yang satu ke stasiun yang lain. Stasiun terakhir adalah akhirat.

Kira-kira lebih sejahtera mana? Orang yang mencari dunia sebagai tujuan, ataukah orang yang melewati dunia dengan kerja keras dalam rangka menabung akhirat? Yang mana yang lebih produktif? Yang pertama atau yang kedua?

Anda baca surat Al-Isra’ ayat 1; pokoknya ada kejadian apa saja, berangkat atau tidak berangkat; hujan atau tidak hujan, itu semua kejadian hanya satu, yaitu diperjalankan oleh Allah. Kalau bahasa arabnya: asraa bi’abdihi laylan.

Ini satu pertimbangan hidup. Anda hiduo itu, hidup sendiri atau disuruh Tuhan? Kalau disuruh Tuhan nanti kan anda dibiayai, dilindungi kalau ada apa-apa. Kalau anda mengeluh ke siapa? Ya, ke yang menyuruh.

Asraa bi’abdihi laylan, Mahasuci Allah yang memperjalankan hambanya di malam hari. Apakah “malam hari” itu? Apa yang dimaksud “gelap”?

Anda tahu tahun depan apa yang terjadi pada anda? Bulan depan? Minggu depan? Besok pagi? Jadi gelap apa terang? Hidup itu gelap. Maka hidup itu mencari terang, karena hidup itu gelap. Karena gelap kita mencari cahaya, maka kita shalat di masjid, di rumah, di kost. Karena shalat itu pencahayaan, satu kali shalat anda mendapatkan tambahan cahaya dari Allah.

Ini yang membuat orang Korea bingung. Mereka bisa membangun gedung, bisa membangun jalan tol, bisa membuat hukum yang baik, tapi nanti kalau sudah selesai bekerja, mereka bingung. Nanti kalau sudah mati kemana? Kan tidak ada kejelasan, mereka tidak ada pengetahuan mengenai itu. Tidak ada teori, tidak ada ajaran, dan tidak ada perspektif, itu yang membuat mereka sering stress. Bagi mereka ini sudah selesai, pembangunan ini sudah top, Korea ini sudah hebat, tapi untuk apa ini semua? Nanti kalau ada gempa, habis semua ini.

18 Agustus 2014

~

*semua ilmu dikutip dari Muhammad Ainun Nadjib. – View on Path.

.
URIP MUNG SAKDERMO MAMPIR NGOMBE

Apa pentingnya dunia sehingga orang-orang bertengkar, mencuri, menipu, berbohong, menjilat, menghasut, sampai ada yang bunuh diri? Karena bagi mereka, dunia adalah tujuannya.

Sementara bagi orang Jawa, ‘neng ndunyo piro suwene, njur bali nang panggonane.’

Di dunia itu hanya sekedar mampir minum. Dunia itu penting. Namun tetap, dunia adalah satu interval antara stasiun yang satu ke stasiun yang lain. Stasiun terakhir adalah akhirat.

Kira-kira lebih sejahtera mana? Orang yang mencari dunia sebagai tujuan, ataukah orang yang melewati dunia dengan kerja keras dalam rangka menabung akhirat? Yang mana yang lebih produktif? Yang pertama atau yang kedua?

Anda baca surat Al-Isra’ ayat 1; pokoknya ada kejadian apa saja, berangkat atau tidak berangkat; hujan atau tidak hujan, itu semua kejadian hanya satu, yaitu diperjalankan oleh Allah. Kalau bahasa arabnya: asraa bi’abdihi laylan.

Ini satu pertimbangan hidup. Anda hiduo itu, hidup sendiri atau disuruh Tuhan? Kalau disuruh Tuhan nanti kan anda dibiayai, dilindungi kalau ada apa-apa. Kalau anda mengeluh ke siapa? Ya, ke yang menyuruh.

Asraa bi’abdihi laylan, Mahasuci Allah yang memperjalankan hambanya di malam hari. Apakah “malam hari” itu? Apa yang dimaksud “gelap”?

Anda tahu tahun depan apa yang terjadi pada anda? Bulan depan? Minggu depan? Besok pagi? Jadi gelap apa terang? Hidup itu gelap. Maka hidup itu mencari terang, karena hidup itu gelap. Karena gelap kita mencari cahaya, maka kita shalat di masjid, di rumah, di kost. Karena shalat itu pencahayaan, satu kali shalat anda mendapatkan tambahan cahaya dari Allah.

Ini yang membuat orang Korea bingung. Mereka bisa membangun gedung, bisa membangun jalan tol, bisa membuat hukum yang baik, tapi nanti kalau sudah selesai bekerja, mereka bingung. Nanti kalau sudah mati kemana? Kan tidak ada kejelasan, mereka tidak ada pengetahuan mengenai itu. Tidak ada teori, tidak ada ajaran, dan tidak ada perspektif, itu yang membuat mereka sering stress. Bagi mereka ini sudah selesai, pembangunan ini sudah top, Korea ini sudah hebat, tapi untuk apa ini semua? Nanti kalau ada gempa, habis semua ini.

18 Agustus 2014

~

*semua ilmu dikutip dari Muhammad Ainun Nadjib. – View on Path.

Thought via Path

.
KARENA saya menganut paham apa yang saya katakan (harus) saya kerjakan, minimal pernah saya lakukan, maka tadi pagi saya mempraktekan.

"Ammar. Belikan teh ya. Jangan teh Sariwangi. Itu produk Inggris. Beli saja teh Poci."

"Iya pak."

"Gulanya sekalian ya. Tapi jangan Gulaku. Itu produk Malaysia punya."

"Iya pak."

"Bentr Mar. Enaknya pakai gula apa ya? Gula yang dibungkus saja ya Mar. Kayak Gula Alfamart."

"Iya pak."

"Eh, jangan gula Alfamart. Alfamart itu punyanya Carrefour. Carrefour punyanya Perancis."

"Busyet dah bapak!"

~

Susah memang sehari tanpa produk asing.

Bersyukurlah Indonesia, karena negara asing belum mau memboikot kita. Hha~

MERDEKA!!!

18 Agustus 2014 – Read on Path.

cognitivedissonance:

The Daily Dot breaks down the monetary cost of militarized police (per officer) and one protester’s heroic act of throwing a tear gas canister away from children.

"Spin Madly On" theme by Margarette Bacani. Powered by Tumblr.