Sepohon Kayu
Home    Info
About: Membagikan apa yang aku baca. Menuliskan apa yang aku bagi.
Merekam apa yang aku lihat.
Listening to Semua Karena Allah by Astrid & Dide

Apa artinya semua ini jika mendatangkan murka Allah | tak tergapai ridho Allah. – Preview it on Path.

auntivietnanti:

angestiyapinakesti:

19catatanhujan:

Happiness is…

:D

The very true happiness

(Source: negerisatucermin)

Nah, kalau yang ini pakai metode tematik.

Sebagian ahli hadist menyusun karya-karyanya dengan tema tertentu, misalnya:

1. At-Targhib wa At-Tarhib: yaitu kitab-kitab hadist yang berisi kumpulan hadist targhib (motivasi) terhadap perintah-Nya, dan tarhib (ancaman) terhadap larangan-Nya, seperi Birrul Walidain (anjuran taat kepada kedua orangtua).

Karya-karya tentang ini antara lain:

a) At-Targhib wa At-Tarhib, karya Zakiyuddin Abdul Azhim bin Abdil Qawiy Al-Mundziri (wafat 656 H),

b) At-Targhib wa At-Tarhib, karya Abi Hafsh Umar bin Ahmad, dikenal dengan nama Ibnu Syahin (wafat 385 H).

2. Buku tentang kezuhudan, keutamaan amal, adab, dan akhlak, antara lain:

a) Kitab Akhlaq An-Nabi, karya Abi Syaikh Abi Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Ashbahani (wafat 369 H),

b) Kitab Riyadh Ash-Shalihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin, karya Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi (wafat 676 H)

c) Kitab Az-Zuhd, karya Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H),

d) Kitab Az-Zuhd, karya Abdullah bin Al-Mubarak, atau Ibnu Al-Mubarak (wafat 181 H). Kitab ini ada tiga jilid. Harganya Rp. 477 ribu. Lebih murah lagi kalau belinya saat book fair. Dapat diskon 30%. Hhe

Kalau beli buku-buku semacam ini, ada juga penjual yang iseng nanya, “Dari pesantren mana mas?” | jawab saja dengan kalem: “Bukan anak pesantren pak.” Hhe

Ga cuma anak pesantren yang boleh gaul dengan buku beginian, kita pun boleh juga mempelajarinya. Hhe

*semoga dapat menjadi referensi kalau beli buku. Hhe – View on Path.

Nah, kalau yang ini pakai metode tematik.

Sebagian ahli hadist menyusun karya-karyanya dengan tema tertentu, misalnya:

1. At-Targhib wa At-Tarhib: yaitu kitab-kitab hadist yang berisi kumpulan hadist targhib (motivasi) terhadap perintah-Nya, dan tarhib (ancaman) terhadap larangan-Nya, seperi Birrul Walidain (anjuran taat kepada kedua orangtua).

Karya-karya tentang ini antara lain:

a) At-Targhib wa At-Tarhib, karya Zakiyuddin Abdul Azhim bin Abdil Qawiy Al-Mundziri (wafat 656 H),

b) At-Targhib wa At-Tarhib, karya Abi Hafsh Umar bin Ahmad, dikenal dengan nama Ibnu Syahin (wafat 385 H).

2. Buku tentang kezuhudan, keutamaan amal, adab, dan akhlak, antara lain:

a) Kitab Akhlaq An-Nabi, karya Abi Syaikh Abi Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Ashbahani (wafat 369 H),

b) Kitab Riyadh Ash-Shalihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin, karya Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi (wafat 676 H)

c) Kitab Az-Zuhd, karya Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H),

d) Kitab Az-Zuhd, karya Abdullah bin Al-Mubarak, atau Ibnu Al-Mubarak (wafat 181 H). Kitab ini ada tiga jilid. Harganya Rp. 477 ribu. Lebih murah lagi kalau belinya saat book fair. Dapat diskon 30%. Hhe

Kalau beli buku-buku semacam ini, ada juga penjual yang iseng nanya, “Dari pesantren mana mas?” | jawab saja dengan kalem: “Bukan anak pesantren pak.” Hhe

Ga cuma anak pesantren yang boleh gaul dengan buku beginian, kita pun boleh juga mempelajarinya. Hhe

*semoga dapat menjadi referensi kalau beli buku. Hhe – View on Path.

Thought via Path

Tahukah Kamu?

Bahwa dalam pembukuan Hadist, ada dua belas metode yang digunakan, salah satu diantaranya adalah metode Al-Jawami’.

Metode Al-Jawami’ ini adalah metode dengan karya yang paling kita kenal dimana apa yang disusun dan dibukukan oleh penyusunnya berkaitan dengan pembahasan agama. Maka dalam kitab semodel ini, kita akan menemukan pembahasan tentang iman (aqidah); thaharah; ibadah; muamalah; pernikahan; sirah; riwayat hidup; tafsir; adab; penyucian jiwa; fitnah; dsb.

Kitab-kitab Jami’ yang terkenal adalah:

1. Al-Jami’ Ash-Shahih. Kalian pasti tahu kitab ini dan siapa penyusunnya? Hhe. Iya betul. Al-Bukhari. Nama panjangnya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (wafat 256 H). Beliau merupakan orang yang pertama menyusun dan membukukan kitab hadist shahih, akan tetapi belum mencakup semuanya. Kitab ini disusun berdasarkan urutan bab. Jumlah semua kitabnya ada 97 kitab. Pada setiap kitab terbagi menjadi beberapa bab, dan pada setiap bab terdapat sejumlah hadist.

Kitab Shahih Bukhari ini banyak mendapat perhatian dari para ulama, salah satunya adalah Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H), beliau membuat syarh nya yaitu Fathul Baari bi Syarhi Shahihi Al-Bukhari.

Untuk kitab ini dari penerbit Pustaka Azzam terdapat 36 Jilid. Kalau ditaruh di rak buku panjang banget. Hhe. Dijual terpisah, dengan total harga seluruhnya adalah Rp. 4,6 juta. Tidak semahal gadgetmu. Hhe.

2. Al-Jami’ Ash-Shahih. Ayo siapa yang tidak kenal kitab ini? Masak tidak tahu. Pasti kalian tahu, tapi cuma lupa. Hhe. Ini merupakan kitab dari Imam Muslim. Nama lengkapnya Imam Abul Husain Muslim bin Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi (wafat 261 H). Kitab ini berisi kumpulan riwayat hadist shahih saja. Dimulai dengan Kitab Iman; Kitab Thaharah; Kitab Haid; Kitab Shalat; dan Kitab Tafsir. Jumlah semuanya ada 54 Kitab. Setiap kitab meliputi beberapa bab, pada setiap bab terdiri dari sejumlah hadist.

Kalian tahu? Menurut kebanyakan ulama, Shahih Muslim ini menempati peringkat kedua setelah Shahih Bukhari.

Sepertihalnya Shahih Bukhari, banyak ulama yang membuat syarh nya. Salahsatunya adalah dari ulama Abu Zakaria Muhyiddin An-Nawawi (wafat 676 H). Yup, Imam An-Nawawi. Dengan judul “Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj.”. Dicetak berulang kali.

Untuk kitab ini, dari penerbit Pustaka Azzam, terdapat 18 Jilid. Harga totalnya Rp. 2,5 juta. Hhe.

3. Al-Jami’ Ash-Shahih. Kitab ini juga tak kalah asing di telinga kita. Yap. Siapa yang tidak kenal Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (wafat 279 H) ? Pasti kenal dong? Hhe. Imam At-Tirmidzi menyusun dengan urutan bab yaitu; Bab Thaharah; Bab Shalat; Bab Witir; Bab Shalat Jum’at; Bab Shalat ‘Idain (Dua hari raya), Bab Safar; Bab Zakat; Bab Puasa; Bab Haji; Bab Jenazah; Bab Nikah; Bab Persususan; Bab Thalaq dan Li’an; Bab Jual-Beli; hingga diakhiri Bab Al-Manaqib.

Syarh yang paling terkenal diantaranya yaitu “Aridhatul Ahwadzu ‘Ala At-Tirmidzi” karya Al-Hafidz Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al-Isybili atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Al-Arabi Al-Maliki (wafat 543 H).

Ada yang tahu harga dan berapa jumlah jilidnya? Hhe

Kitab “Jami’ At-Tirmidzi” ini biasanya dinamakan dengan “Sunan At-Tirmidzi”. Dari penerbit Pustaka Azzam, untuk Sunan At-Tirmidzi ini ada 3 Jilid. Harganya Rp. 493 ribu. Seharga modem. Hhe.

Di samping itu, dari ketiga kitab Jami’ di atas, telah ditulis kitab-kitab “Mustakhraj” atas Shahih Bukhari; Shahih Muslim; atau keduanya bersama-sama. Ada juga kitab-kitab “Mustadrak”. Yang paling dikenal ya “Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain” karya Abu Abdillah Al-Hakim (wafat 405 H). Kitab mustadrak ini harganya Rp. 2,2 juta.

*****

Nah, itu baru dari satu metode dan satu syarh loh. Hhe. Masih ada 11 metode lagi. Dengan rincian bab-bab nya. Coba bayangin, berapa jumlah buku hadist yang perlu kita pelajari? Buanyaaaakkkk.

Ternyata, kerdil banget ya ilmu kita? Hhe. Semangat!

Kumpulin duitnya, beli bukunya, baca isinya, bingung tanyakan ke gurunya, sudah tahu amalkan isinya, bagikan ke temen-temennya.

#ensiklopedisHadist #sekarangAkuTahu #banyakYangTidakAkuTahu – Read on Path.

Menuntut Ilmu Seharusnya Berdampak

Za’idah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari Al Hasan, bahwa dia berkata, “Dulu, ketika seorang pria menuntut ilmu, maka tak lama kemudian, dia akan melihat dampaknya pada kekhusyukannya; pandangannya; lidahnya; tangannya; shalatnya; pembicaraannya; dan kezuhudannya. Apabila seseorang telah mengetuk pintu ilmu, kemudian mengamalkan ilmunya, maka itu akan menjadi kebaikan baginya di dunia dan…

View On WordPress

Thought via Path

Tahukah Kamu?

Bahwa kata Yahudi berasal dari kata hawadah yang artinya kasih sayang. Dan juga berasal dari kata tawahhud yang artinya taubat. Seperti halnya ucapan Nabi Musa ‘alayhi as-salaam dalam QS. Al-A’raaf: 156. Kemungkinan mereka disebut demikian pada awal mulanya karena taubat mereka dan kecintaan mereka antar satu sama lain.

Ada pula yang berpendapat bahwa mereka dinamakan Yahudi karena hubungan silsilah mereka dengan Yahuda, yaitu putera tertua Nabi Ya’qub. Sedangkan menurut Abu ‘Amr bin al-‘Ala’ (seorang ahli tata gramatika bahasa Arab dari generasi Tabi’in), disebut Yahudi, karena mereka “يَتَهَوَّدُونَ” yaitu mereka sering bergerak-gerak ketika membaca Taurat.

Bagaimana dengan Nasrani?

Ketika Nabi Isa ‘alayhi as-salaam diutus, diwajibkan bagi Bani Israil untuk mengikutinya serta taat kepadanya. Para sahabat dan pemeluk agama yang dibawa ‘Isa tersebut disebut Nasrani. Disebut demikian karena mereka saling mendukung diantara mereka. Karenanya, mereka disebut Anshar, sebagaimana yang dikatakan Nabi Isa ‘alayhi as-salaam dalam QS. Ali ‘Imran: 52.

Ada pula yang mengatakan, disebut demikian karena mereka mendiami daerah bernama Nashirah. Hal itu dikatakan oleh Qatadah; Ibnu Juraij; dan Ibnu ‘Abbas.

Bagaimana dengan Shabi’in?

Menurut pendapat para ulama, yaitu Mujahid; para pengikutnya; serta Wahab bin Munabih, Shabi’in adalah suatu kaum yang tidak memeluk agama Yahudi, tidak juga Nasrani, ataupun Majusi, dan bukan pula termasuk Musyrikin (yang menyekutukan Allah SWT). Tetapi mereka adalah kaum yang masih berada di atas fitrah dan tidak ada agama tertentu yang dianut dan dipeluknya.

Oleh karena itu, orang-orang musyrik (penyembah berhala, matahari, bintang, dsb) mengejek orang-orang yang berserah diri dengan sebutan Shabi’i. Artinya, ia berada di luar semua agama yang ada di muka bumi pada saat itu. Dan sebagian ulama lainnya mengatakan, Shabi’in adalah mereka yang tidak sampai kepadanya dakwah seorang Nabi.

Adapun firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 62, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, orang-orang Shabi’in, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Ayat tersebut memberikan informasi bahwa orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa a.s., orang-orang Nasrani di masa Nabi Isa a.s., serta orang-orang yang ‘tidak beragama’ karena mereka tidak mendapati dakwah Nabi namun ia yakin bahwa ada Dzat Yang Mahaesa, sesungguhnya akan mendapatkan pahala dari Allah SWT juga, dengan prasyarat seperti yang dipaparkan dalam surah tersebut.

Kenapa tidak semua saja? yang Mukmin, yang Yahudi, yang Nasrani, yang Shabi’in apapun itu diterima saja semua amal-amalnya?

Kita tahu, pada masa Nabi Musa, sebagian besar melenceng dari Taurat. Merubah-rubah firman Allah di dalam Taurat serta menyembunyikan beberapa hal untuk diganti dengan yang lain. Berimprovisasi sendiri, bikin berhala-berhala sesembahan. Padahal pada dasarnya agama Yahudi pun adalah agama Tauhid. Namun sebagian besar tidak mengikuti syariat yang Allah SWT tetapkan di dalam Taurat.

Demikian juga untuk agama Nasrani di masa Nabi Isa, agama Nasrani pun agama Tauhid. Terdapat syariat-syariat yang telah ditetapkan bagi Nabi Isa a.s., dan pengikutnya.

Akan tetapi ada konspirasi-konspirasi besar yang seharusnya diketahui dan disadari oleh teman-teman Yahudi maupun Nasrani. Yaitu adanya mitologi-mitologi yang dibuat-buat. Misal, menyatakan Nabi Isa sebagai anak Tuhan dan sebagai Juru Selamat (Yesua, jika dalam bahasa Ibrani). Bahkan penyebaran ide-ide tersebut sukses dan dipercaya oleh orang-orang sampai sekarang. Dan menjadikan seluruh dunia ini menjadi korban konspirasi tersebut. Lihat QS. Al-Maaidah dari awal hingga akhir.

Sejak dulu hingga sekarang, secara sistem (fitrah) sebenarnya manusia akan meyakini Tuhan itu Esa. Hal ini dijelaskan di dalam QS. Al-A’raaf: 172-174. Tidak melihat ia di pedalaman kutub atau di keramaian kota, secara fitrah tiap-tiap manusia akan menyadari bahwa segala ciptaan ini dan pengaturannya hanya dilakukan oleh satu Dzat saja.

Baca QS. Al-Waaqi’ah: 57-87 sebagai perenungan.

Lalu bagaimana bisa ada yang berani berlogika bahwa setiap agama itu benar? Padahal Dzat yang dituju berbeda.

#ensiklopedisQuran #sekarangAkuTahu – Read on Path.

DIRGAHAYU TNI-AU KE-68! – View on Path.

DIRGAHAYU TNI-AU KE-68! – View on Path.

Thought via Path

"Sesungguhnya hati itu bisa berkarat dari waktu ke waktu sebagaimana besi bila tidak ada yang mengingatkan dan membersihkan karatnya."
(Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik) – Read on Path.

“Ada yang selalu ditunggu, namun tak akan datang. Ada yang tak diharapkan, namun begitu setia tinggal. Dunia memang tak selalu seperti maumu.” —Tia Setiawati Pakualam (via karenapuisiituindah)

Hmmm

Istri Kepala Rumahtangga

Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Maka selalu terasa lucu kalau orang bertanya: “Kalau sampeyan sibuk acara terus kesana kemari hampir tak ada sela hari, bagaimana membagi perhatian kepada keluarga?”

Semua yang terpaparkan sebelum ini sudah sangat menjelaskan jawaban untuk itu. Masyarakat, istri-istri kami itu tidak cepat menyadari bahwa kami berdua bukan suami istri. Kami sudah menjadi satu. Kami satu…

View On WordPress

"Spin Madly On" theme by Margarette Bacani. Powered by Tumblr.